Bendungan Tailing PETS Disebut Bisa Jadi Bom Waktu di Hulu Pohuwato

Senin, 18 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bercak.Id,Pohuwato – Rencana pembangunan bendungan tailing raksasa setinggi sekitar 150 meter di kawasan tambang PETS terus memicu kecemasan di tengah masyarakat Pohuwato.

Di balik janji investasi dan pembangunan industri, warga mulai mempertanyakan satu hal yang dianggap belum dijawab secara terbuka oleh pemerintah maupun pihak perusahaan: seberapa besar risiko bencana jika bendungan limbah tambang itu suatu hari gagal menahan tekanan air dan material limbah?

Kekhawatiran itu bukan sekadar asumsi. Indonesia memiliki sejarah panjang tragedi bendungan dan tanggul jebol yang menimbulkan korban jiwa besar serta menghancurkan permukiman warga.

Masyarakat masih mengingat tragedi Situ Gintung di Tangerang Selatan tahun 2009. Tanggul penahan air itu jebol pada dini hari dan menerjang permukiman warga saat sebagian besar masyarakat sedang tertidur.

Sedikitnya lebih dari 90 orang meninggal dunia dan ratusan rumah hancur diterjang banjir bandang. Tragedi tersebut menjadi salah satu bencana bendungan paling memilukan dalam sejarah Indonesia modern.

Kasus lain juga terjadi di Pulau Buru, Pulau Buru, ketika Bendungan Waeapo dilaporkan jebol akibat cuaca ekstrem dan longsor. Air meluap deras hingga merendam rumah warga dan memutus akses jalan.

Peristiwa itu kembali menunjukkan bagaimana kegagalan konstruksi atau tekanan alam dapat berubah menjadi ancaman serius bagi masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai, si kutif daei, cnnindonesia.com⁠.

Di berbagai daerah lain, kerusakan tanggul dan bendungan kecil juga berkali-kali menyebabkan banjir mendadak, longsor, serta menghancurkan lahan pertanian dan permukiman warga.

Fakta-fakta itu membuat masyarakat Pohuwato mulai bertanya, mengapa pemerintah terlihat begitu tenang menghadapi rencana pembangunan bendungan tailing berukuran raksasa di kawasan yang memiliki aliran sungai aktif dan curah hujan tinggi?

Bendungan tailing berbeda dengan bendungan air biasa. Struktur ini dirancang untuk menampung limbah sisa pertambangan dalam volume besar selama bertahun-tahun.

Jika terjadi kerusakan konstruksi, longsor, hujan ekstrem, atau kesalahan pengelolaan, material yang keluar bukan hanya air, tetapi juga lumpur limbah tambang yang dapat menyapu wilayah di bawahnya.

Warga penambang lokal mengaku semakin khawatir karena lokasi yang disebut akan menjadi area pembangunan bendungan berada dekat jalur aktivitas masyarakat dan kawasan yang selama ini menjadi sumber nafkah rakyat kecil.

“Kalau bendungan sebesar itu jebol, siapa yang bisa jamin kampung-kampung di bawah aman? Jangan sampai nanti rakyat dikorbankan demi proyek perusahaan,” ujar seorang warga penambang.

Masyarakat juga mempertanyakan sikap pemerintah daerah yang dinilai belum transparan membuka hasil kajian risiko kepada publik. Hingga kini belum terlihat adanya pemaparan terbuka mengenai: radius bahaya,, jalur evakuasi, simulasi kebocoran, potensi pencemaran, maupun dampak terhadap sungai dan permukiman warga.

Padahal kawasan Pohuwato sendiri dikenal rawan cuaca ekstrem, banjir, dan longsor di sejumlah titik perbukitan. Kondisi geografis ini membuat warga menilai pembangunan bendungan tailing berukuran besar seharusnya tidak hanya dibahas dari sisi investasi, tetapi juga dari sisi ancaman keselamatan jangka panjang.

Di tengah situasi itu, masyarakat mulai mendesak agar pemerintah tidak hanya berdiri sebagai fasilitator kepentingan korporasi, tetapi benar-benar memihak pada keselamatan rakyat.

“Jangan tunggu bencana dulu baru sibuk turun ke lapangan. Belajar dari tragedi-tragedi sebelumnya, yang paling menderita selalu masyarakat kecil,” kata warga lainnya.

Kini penolakan dan kekhawatiran terhadap proyek bendungan tailing PETS mulai berkembang bukan hanya soal hilangnya mata pencaharian penambang lokal, tetapi juga ketakutan akan ancaman bencana besar yang sewaktu-waktu dapat menghantui kawasan Pohuwato jika proyek tersebut tetap dipaksakan tanpa keterbukaan dan jaminan keselamatan yang jelas bagi masyarakat.

Sementara itu, ketika di konfirmasi Humas perusahaan PGM, Kurniawan Siswoko membenarkan adanya pembangunan bendungan di beberapa wilayah.

“ Dikemarin dijelaskan ke rombongan bupati seperti itu, lokasi nanase, dulamayo, ” Ujarnya.

Berita Terkait

Pani Gold Mine Turun Tangan Padamkan Kebakaran Lahan di Hulawa, Api Sempat Ancam Permukiman
Pani Gold Mine dan PDAM Keruk Sedimentasi Intake Air Terang, Jaga Pasokan Air Bersih Warga Pohuwato
Hutan Bugu Diduga Dikapling untuk PETI, 24 Nama Dilaporkan
Wilayah Bugu Diduga Diserobot, Warga Puncak Jaya Tantang Pemerintah Bertindak!
PETI Bugu-Taluditi DiDuga Kebal Hukum! Alat Berat Terus Beroperasi, Nama Oknum Brimob Mencuat
KETIKA ASPIRASI DI BALAS REPRESIF: MAHASISWA BUKAN MUSUH NEGARA!
Cegah Tawuran Pelajar, Pemkab Pohuwato Perkuat Pembinaan Karakter Siswa
2.450 Liter Solar Bersubsidi Diamankan Satreskrim Polres Pohuwato, Diduga Untuk PETI
Berita ini 51 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 17:43

Pani Gold Mine Turun Tangan Padamkan Kebakaran Lahan di Hulawa, Api Sempat Ancam Permukiman

Kamis, 29 Oktober 2026 - 17:39

Pani Gold Mine dan PDAM Keruk Sedimentasi Intake Air Terang, Jaga Pasokan Air Bersih Warga Pohuwato

Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:10

Hutan Bugu Diduga Dikapling untuk PETI, 24 Nama Dilaporkan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:51

Wilayah Bugu Diduga Diserobot, Warga Puncak Jaya Tantang Pemerintah Bertindak!

Selasa, 27 Oktober 2026 - 09:49

PETI Bugu-Taluditi DiDuga Kebal Hukum! Alat Berat Terus Beroperasi, Nama Oknum Brimob Mencuat

Berita Terbaru