Oleh: Rahmat Djaba / Dino Saurus, Ketua NGO Tomini Initiative Indonesia (To_Innesia) Gorontalo – Mapala_STA IAIN Sultan Amai Gorontalo
Bercak. Id, Gorontalo —Tiga dekade perjalanan Mahasiswa Pencinta Alam Sultan Amai (MAPALA_STA) bukan sekadar hitungan tahun, melainkan refleksi nilai dan eksistensi. Organisasi ini lahir dari semangat petualangan yang berpadu dengan kesadaran ekologis serta tanggung jawab moral terhadap keberlanjutan kehidupan di bumi.
Dalam peringatan 30 tahun MAPALA_STA, Rahmat Djaba, Ketua NGO Tomini Initiative Indonesia (To_Innesia) dan senior Mapala_STA IAIN Sultan Amai Gorontalo, menyampaikan pesan reflektif bertajuk “Menuju Terbangunnya Nilai Hakiki Pelestari Bumi.” Ia menekankan bahwa gerakan pencinta alam harus melampaui romantika petualangan menuju kesadaran ilmiah, sosial, dan spiritual.
Mapala sebagai Pengusung Nilai Hakiki Pencinta Alam
Rahmat menegaskan bahwa Mahasiswa Pencinta Alam harus menjadi pelopor pergeseran paradigma dari antroposentrisme menuju ekosentrisme—pandangan yang menempatkan seluruh unsur alam sebagai entitas bernilai intrinsik yang wajib dihormati dan dilindungi.
Tiga nilai hakiki yang perlu dihidupkan dalam gerakan pencinta alam menurutnya adalah:
1. Kesadaran Ilmiah dan Kritis
Bahwa menjaga bumi bukan sekadar idealisme, tetapi keharusan ilmiah. Sejalan dengan laporan IPCC 2023, krisis iklim adalah konsekuensi dari perilaku manusia yang tidak berkelanjutan.
2. Kesadaran Sosial dan Humanistik
Kerusakan alam paling dirasakan oleh kelompok rentan seperti petani, nelayan, dan komunitas adat. Maka perjuangan ekologis harus seiring dengan perjuangan keadilan sosial. Paus Paulus VI (1971) menegaskan: “Ketidakadilan terhadap manusia adalah ketidakadilan terhadap ciptaan.”
3. Kesadaran Spiritual Lintas Iman
Alam adalah kitab suci terbuka. Rahmat mengutip berbagai ajaran lintas agama:
QS. Al-A’raf [7]:56: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.”
Kejadian 2:15: “Tuhan menempatkan manusia di taman Eden untuk mengusahakan dan memeliharanya.”
Prinsip Ahimsa dalam Hindu dan ajaran Metta Sutta dalam Buddhisme yang menegaskan kasih universal terhadap seluruh makhluk.
Tiga Dekade Refleksi Gerakan MAPALA_STA
Selama 30 tahun, MAPALA_STA telah berevolusi dari komunitas petualang menjadi laboratorium etika ekologis. Namun, Rahmat mengajak seluruh anggota untuk merefleksikan arah gerakan: “Apakah kegiatan kita masih sekadar mendaki dan berpetualang, ataukah sudah menjadi gerakan ilmiah yang melahirkan solusi konkret bagi keberlanjutan lingkungan?”
MAPALA_STA didorong untuk menjadi agen perubahan ekologis di kampus dan masyarakat — dengan mengintegrasikan riset, advokasi, dan aksi nyata. Pendakian harus menghasilkan data konservasi, ekspedisi melahirkan riset biodiversitas, dan kegiatan sosial menumbuhkan kemandirian ekologis masyarakat.
Di tingkat kampus, konsep Kampus Hijau, Asri, Islami, dan Ilmiah harus diwujudkan secara terintegrasi. Rahmat mencontohkan langkah konkret seperti penanaman multi-purpose tree species (MPTS) — pohon yang tidak hanya menghasilkan buah, sayur, dan obat-obatan, tetapi juga menjaga kesuburan tanah serta keseimbangan air.
Menjadi Sentrum Perubahan dan Pelestari Bumi
Menurut Rahmat, menjadi pelestari bumi berarti membangun etos ekologis berkelanjutan yang menyatukan pengetahuan, moral, dan spiritualitas. Ia mengutip pemikiran Seyyed Hossein Nasr (1996) dalam Religion and the Order of Nature, bahwa krisis ekologis modern muncul karena hilangnya kesadaran sakral terhadap alam.
“Tugas kita adalah mengembalikan kesakralan itu melalui ilmu, iman, dan tindakan. Mapala harus menjadi ekologi moral bangsa, penjaga nilai, dan penggerak kesadaran ekologis lintas generasi,” ujarnya.
Menutup pesannya, Rahmat Djaba mengutip sabda Nabi Muhammad SAW:“ Sesungguhnya dunia ini hijau dan indah, dan Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, maka Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat.” (HR. Muslim)
“Tiga puluh tahun ini adalah momentum reflektif bagi kita semua untuk menegaskan jati diri bukan sebagai penakluk alam, melainkan penjaga keseimbangannya,” ujarnya.
Ia menutup dengan ajakan: “Mari kita jawab amanah itu bukan dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan yang berpijak pada ilmu, iman, dan integritas ekologis. Selamat 30 Tahun MAPALA_STA IAIN Sultan Amai Gorontalo — teruslah menjadi obor nilai, penjaga bumi, dan pewaris etika ekologis bagi generasi berikutnya.”








