Bercak. Id, Pohuwato — Tepuk tangan memecah udara segar Desa Manunggal Karya. Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, berdiri di panggung sederhana untuk menandai dimulainya pembangunan cetak sawah baru. Prosesi seremonial berlangsung megah: spanduk besar berkibar, kamera menyorot, dan anggaran raksasa Rp207 miliar dari APBN dipamerkan sebagai bukti keseriusan pemerintah memperkuat ketahanan pangan.
“Ini bentuk perhatian Presiden Prabowo. Kita kerja cepat, masyarakat dukung,” ujar Gusnar dengan nada optimistis, seakan mengirim gelombang harapan ke seluruh petani di Randangan.
Ia menyebut Gorontalo memiliki 25.000 hektare sawah produktif. Dengan tambahan sawah baru, pemerintah menargetkan musim tanam bisa digenjot hingga tiga kali setahun. Harapan, dalam acara itu, terasa seperti udara yang mengalir lembut di antara ribuan hektare lahan yang akan dicetak.
Namun optimisme itu hanya menggema di dalam tenda. Beberapa kilometer dari lokasi seremonial, kenyataan memukul jauh lebih keras.
DI BALIK SPANDUK: SAWAH-SAWAH POHUWATO YANG SEDANG SEKARAT
Di Kabupaten Pohuwato, terutama Duhiadaa dan Buntulia, sawah-sawah tidak sedang menunggu musim tanam. Sawah-sawah itu sedang mati perlahan.
Di tengah hamparan lahan yang retak, Abdurahman Lukum—seorang petani yang separuh hidupnya dihabiskan di sawah—berdiri menatap tanah yang dulu memberinya harapan.
“Sekitar 80 persen petani di Duhiadaa sudah menyerah. Takut gagal lagi,” katanya lirih.
Air irigasi yang dialirkan ke sawah kini keruh, pekat membawa sedimen. Lumpur tebal membuat padi tak bisa tumbuh, sementara petani yang masih nekat turun ke sawah justru diserang gatal-gatal karena kualitas air yang buruk.
Dulu, karung-karung gabah menumpuk. Anak-anak mereka makan dari hasil sawah sendiri. Sekarang?
“Banyak yang beli beras untuk makan sehari-hari,” ungkap Abdurahman—suara bergetar, seperti menyimpan luka yang sudah terlalu lama dipendam.
Pengolahan sawah kini menelan biaya Rp6 juta per hektare. Petani tak mampu lagi menalangi. Pengusaha gilingan yang biasanya menopang modal pun mulai tumbang—beberapa bahkan ingin menjual mesin gilingan karena terjerat utang.
“Bantuan mesin ada, tapi mau bayar solar dan operator saja kami sudah kewalahan,” tambah Abdurahman.
Lalu apa akar persoalannya?
Ia menatap ke arah perbukitan. Di sanalah jawabannya.Tambang ilegal—PETI—yang menggila.
“Dulu tambang manual tidak merusak. Sekarang tambang ilegal yang bikin air berubah jadi lumpur,” tegasnya.
PETANI MENGAJUKAN 3 TUNTUTAN HIDUP-MATI
Mereka tidak lagi meminta sembako, pupuk, atau janji. Petani hanya meminta tiga langkah yang bisa menyelamatkan masa depan pangan Pohuwato: Uji sampel air, Uji tanah sawah, Hentikan sedimentasi dari PETI
“Tiga hal ini wajib. Kalau tidak, sawah di Duhiadaa dan Buntulia tinggal nama,” kata Abdurahman.
IRONI BESAR: SAWAH BARU DICETAK, SAWAH LAMA DIBIARKAN MATI
Pemerintah meresmikan ribuan hektare sawah baru dengan prosesi mewah dan janji yang megah. Namun pada saat yang sama, ratusan hektare sawah lama sedang berjuang tetap bernapas di tengah serbuan sedimentasi PETI.
Inilah ironi paling brutal dari pembangunan pangan di Gorontalo: Bagaimana mungkin bicara ketahanan pangan, jika sawah yang sudah puluhan tahun hidup justru dibiarkan mati dalam lumpur?
Di tengah riuh tepuk tangan groundbreaking, suara para petani Pohuwato seperti Abdurahman seharusnya menjadi alarm keras: Sebelum mencetak sawah baru, selamatkan dulu sawah lama yang sedang sekarat.








