Bercak.Id, Pohuwato – Kawasan ikonik Bundaran menuju Pohon Cinta, Kabupaten Pohuwato, yang selama ini dikenal sebagai ruang publik favorit warga, mendadak berubah mencekam. Aksi baku pukul pecah di lokasi tersebut, diduga dipicu praktik judi balap lari yang melibatkan kelompok remaja.
Ironisnya, mayoritas pelaku yang terlibat diketahui masih berstatus sebagai pelajar. Peristiwa itu bermula dari taruhan hasil lomba lari yang digelar secara ilegal di jalanan umum. Perselisihan antar kelompok pendukung yang tidak terima dengan hasil taruhan memicu adu mulut, hingga akhirnya berujung pada aksi kekerasan di tengah kerumunan warga yang menyaksikan.
Insiden tersebut menimbulkan kekhawatiran masyarakat, mengingat kawasan bundaran dan Pohon Cinta merupakan salah satu ikon daerah yang kerap menjadi tempat bersantai keluarga, khususnya pada sore dan malam hari.
Menanggapi fenomena yang dinilai meresahkan itu, tokoh pemuda Pohuwato, Hardiknas Dulman, menyampaikan keprihatinan mendalam atas keterlibatan anak-anak sekolah dalam praktik perjudian yang berujung kekerasan.
“Ini adalah sinyal merah bagi pendidikan dan pengawasan remaja di daerah kita. Sangat miris melihat anak-anak sekolah justru menghabiskan waktu dengan berjudi balap lari hingga berujung aksi baku pukul. Hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret untuk memutus rantai kerawanan di kawasan tersebut, Hardiknas secara khusus meminta Polres Pohuwato segera turun tangan. Ia mendesak kepolisian membangun pos penjagaan permanen di titik-titik krusial yang kerap dijadikan ajang berkumpulnya massa untuk kegiatan negatif.
“Kami meminta dengan hormat kepada Bapak Kapolres Pohuwato agar segera membangun pos jaga di dua titik rawan tersebut. Kehadiran aparat secara menetap akan memberikan efek jera sekaligus memungkinkan deteksi dini agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.
Adapun dua titik yang diusulkan untuk pembangunan pos jaga yakni kawasan bundaran dan area Pohon Cinta, yang sering menjadi pusat keramaian pada sore hingga malam hari.
Masyarakat berharap, kejadian ini menjadi momentum evaluasi bersama, baik oleh aparat penegak hukum, pemerintah daerah, sekolah, maupun orang tua, agar ruang publik di Pohuwato kembali aman dan ramah bagi semua kalangan.








