Bercak.Id,Pohuwato – Tokoh muda Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Sigit Buludawa, angkat bicara terkait pemberitaan yang menyebutkan bahwa 100 persen ikan konsumsi di wilayah Torosiaje tercemar, sebagaimana dikaitkan dengan hasil penelitian Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Sigit Buludawa yang berprofesi sebagai advokat menegaskan bahwa pemberitaan tersebut telah memicu kemarahan masyarakat karena dinilai sangat merugikan dan mencemarkan nama baik desa.
“Kami dan masyarakat Torosiaje sangat marah dan keberatan dengan pemberitaan tersebut. Hasil penelitian itu tidak pernah dikonfirmasi ke pemerintah desa maupun ke masyarakat sebelum dipublikasikan,” tegas Sigit.
Menurutnya, klaim “100 persen ikan konsumsi tercemar” sangat berbahaya dan menyesatkan. Pasalnya, ikan hasil tangkapan nelayan Torosiaje tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat setempat, tetapi juga diperdagangkan hingga ke luar daerah, seperti Gorontalo, Palu (Sulawesi Tengah), hingga Manado.
“Kalau disebutkan 100 persen ikan tercemar, itu berarti semua ikan yang kami konsumsi dan perjualbelikan juga tercemar. Ini bukan hanya merugikan Torosiaje, tapi juga menimbulkan keresahan di daerah lain,” ujarnya.
Sigit menambahkan, masyarakat sangat menyayangkan sikap UNG yang selama ini menjalin kerja sama dengan desa, termasuk menempatkan mahasiswa untuk kegiatan akademik dan pengabdian. Selama ini, kata dia, masyarakat Torosiaje selalu menerima dan melayani pihak kampus dengan baik.
“Dengan adanya pemberitaan ini, masyarakat merasa dikhianati. Bahkan sudah ada sikap penolakan dan boikot terhadap UNG dari masyarakat Torosiaje,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti klarifikasi terbaru dari UNG yang menyebutkan hanya beberapa jenis ikan tertentu di perairan Teluk Tomini yang tercemar. Menurut Sigit, klarifikasi tersebut justru bertolak belakang dengan pemberitaan awal.
“Ini berbeda jauh dengan pernyataan awal yang menyebutkan 100 persen ikan konsumsi di Torosiaje tercemar. Sekali lagi, ini sangat merugikan kami dan UNG harus bertanggung jawab,” katanya.
Dampak dari pemberitaan tersebut kini dirasakan langsung oleh para nelayan. Sigit menyebutkan bahwa sudah tidak ada lagi pembeli dari luar daerah yang mau membeli ikan hasil tangkapan nelayan Torosiaje.
“Nelayan kami terpukul. Ikan tidak laku, pembeli takut. Padahal dari hasil melaut itulah mereka menghidupi keluarga, menyekolahkan anak-anak, bahkan membiayai kuliah,” ujarnya.
Atas kondisi tersebut, masyarakat Torosiaje menuntut UNG untuk bertanggung jawab secara terbuka, setidaknya melalui permohonan maaf resmi dan video klarifikasi yang secara jelas menyebutkan Desa Torosiaje.
“Jika UNG tidak melakukan klarifikasi dan permohonan maaf secara terbuka kepada Desa Torosiaje, maka opsi terakhir kami akan melaporkan pihak UNG ke Polda Gorontalo,” tegas Sigit.
Ia juga mengingatkan agar penelitian dilakukan secara komprehensif dan bertanggung jawab.
“Tidak bisa hanya datang satu-dua hari, mengambil sampel satu-dua ekor ikan, lalu menyimpulkan 100 persen ikan konsumsi tercemar. Kasihan nelayan, kasihan masyarakat Torosiaje. Kehidupan kami bergantung pada laut,” pungkasnya.








